Selamat datang di web kesehatan hewan. Darrylkosambipet.com

Obat anti inflamasi | Obat Radang | Anjing | Kucing

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Obat anti inflamasi, Radang, Anjing, Kucing

Author: Darryl

Obat Inflamasi atau radang adalah respon jaringan tubuh yang hidup terhadap infeksi dan ciderah jaringan, infeksi menyebabkan

inflamasi, Tetapi tidak semua inflamasi disebabkan oleh infeksi.

5 (lima) tanda khas dari inflamasi

1. Rubor (kemerahan), disebabkan berkumpulnya darah pada jaringan yang terkena inflamasi akibat pelepasan mediator kimia tubuh (kinia,Prostaglandin,Histamin).

2. Kalor (Panas) disebabkan oleh berkumpulnya darah makin banyak dan benda pirogen yang mengganggu pusat pengatur panas pada hypothalamus.

3. Tumor (pembengkakan) karena adanya rembesan plasma kejaringan intertitiel tempat inflamasi,kinia yang diproduksi menyebabkan vasodilatasi arteriole dan meningkatkan permiabilitas kapiler.

4. Dolor (rasa nyeri) disebabkan oleh proses pembengkakan dan pelepasan mediator kimia.

5. Fungtio leusa / lesi ( gangguan fungsi) disebabkan karena adanya deformitas akibat pembengkakan dan rasa nyeri sehingga mengganggu mobilitas.

Kelompok obat anti inflamasi

1. Antibiotika

2. Sulfonamida

3. Anti parasit ,Aanti malaria,Anti cacing,Anti fungsi,Anti kutu,dan Scabies)

4. Anti Viral

5. Anti tuberkulosa

6. Anti inflamasi non Steroid (Non Steroid Anti inflamasi Drugs/NSAID)

Obat nomer (1) sampai dengan no enam(6) ditambah anti kanker bergabung dalam kelompok Komoterapi (Chemoterapie)

Antibakteri dan antibiotika

Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Dan jamur berkhasiat untuk menghambat perkembang biakan atau membunuh microorganism.

Antibakterial dan antimikroba adalah substansi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri atau microorganism seperti virus,Jamur,Protozoa,Riketsia, dan lain lain. Keduanya berfu ngsi sama tetapi bahan asalnya berbeda.

Kelompok Antibakterial

Antibakteri dikelompokan menjadi 9 jenis (JL.Kee,ER,Hayes,1996)

yaitu: 1). Penisilin 2)Cefalosporin 3) Makrolid, 4) Tetrasiklin, 5) Kloramfenicol, 6) Peptida dan Sufonamida, 7) Vaqncomisin, 8) Linkosamid, 9) Aminoglikosid.

Berdasarkan asalnya Antibakterial dikelompokan menjadi.

1) Antibakterial alamiah (atau diperoleh langsung dari alam),2) Antibakterial Semisintetis, 3) Antibakterial sintetis.

Mekanisme Kerja Anti bacteri (JL,Kee,ER,Hayes,1996)

1. Cara kerja: Menghambat sintetis dindingsel. Efek samping:Mematikan bakteri (Bakteri-sidal) dengancara memecah dan menghambat sistesa enzim. Contoh obat: Penisilin, Sefalosporin, Bacsitrasin, Vankomisin.

2. Cara kerja: Mengubah Permiabilitas membrane sel. Efek samping : Bakterisdal dan bkteriostatik dengancara sel lisis karena hilangnya substansi seluler . Contoh obat : Amfoterisin B, Nistatin, Polimiksin, Kolistin.

3. Cara kerja: Menghambat sintesa protein. Efek samping: Efek Bakterisidalb dan bakteriostatik dengan cara menghambat tahap-tahap sintesis protein pada sel kuman tanpa mempengaruhi sel normal tubuh. Contoh obat : Aaminoglikosid, Tetrasiklin, Makrolid/Eritromisin, Linkomisin.

4. Cara kerja: Mengganggu metabolis sel. Efek samping: Bakteriostatik dengancara mengganggu tahap ,metabolism sel. Contah obat: Sulfonamida, Trimetoprim, Isoniasid, Asam nilidiksat, Rifampin.

Pemberian antibacterial dengan konsentrasi penghambatan (MIC : minimum inhibitory concentration) diperlukan untuk menghentikan pertumbuhan mikroorganisme. Apabila diinginkan efek bakterisidal diperlukan konsentrasi bakterisidal minimum (MBC:minimum bacterisidal concentration), yang biasanya dalam dosis tinggi.

Aspek yang perlu diperhatikan dan perawatan

Efektifitas penyembuhan infeksi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan pemilihan obat antibacterial tetapi juga oleh hal hal lainyaitu:

1. Data tahan tubuh pasien, yang dapat dilihat dari a. Imunoglobulin (IgG,IgM), b. Lekosit

2. Status nutrisi

3. Umur

4. Fungsi organ

5. Kelancaran sirkulasi.

Oleh karna itu perawatan berperan dalam meningkatkan efektifitas antibiotika dan penyembuhan pasien melalui perbaikan nutrisi, kelancaran sirkulasi,membangun daya tahan dan pemantauan fungsi organ.

Reaksi merugikan yang sering terjadi akibat pemberian Antibakterial dan cara mengatasi dalam perawatan.

1. Jenis reaksi merugikan: Alergi atau Hipersensitifitas. Penjelasan dan cara mengatasi: - Obat sebagai antigen bereaksi lebih dengan antibody tubuh dan merangsang pelepasan histamine sehingga terjadi efek,

Histamine terutama berupa gejala ringan 

ruam kulit, Prutitus, Urtikaria

gejala berat:

Kolap vaskuler, Cedema laring, Bronkospasme, dan henti jantung, Keadaan paling berat adalah shok anapilaknik, biasanya terjadi 20 menit setelah pemberian obat, dan apa bila tak teratasi dapat menimbulkan kematian.

Cara mengatasi:

- Kaji rirawat alegi obat dengan cermat, - kalau perlu adakan uji kepekaan obat ( Skin tes) – Gejala alergi ringan uasanya kerena obat per oral, diatasi dengan antihistamin dan kortikosteroid. – Gejala beratviasanya pada pemberian obat parenteral harus segera mendapatkan adrenalin (epinefrin) subkutan (I), Kortikosteroid (II), Bronkodilator (III) dan antihistamin ,secara parenteral. – Pantau terus vital sign,kalau perlu dipasang infus agar shok segera teratasi.

Jenis rekasi merugikan :

Resistensi. Penjelasan dan cara mengatasi:

- Resistensi dapat terjadi akibat kontak sebelumnya dengan antibacterial sebelumnya, lebih lebih infeksi karna kuman yang didapatkan dirumah sakit ( Infeksi nosokomial) yang sudah pernah kontak dengan antibacterial sebelumnya. – Resistensi dapat terjadi karna pemberian anbakterial dalam dosis kecil waktunya pendek. – Resistensi silang dapat terjadi antara antibiotika yang serupa, Misalnya: Penisilin – Sefalosporin. Cara mengatasi: - Pemberian obat antimikroba dalam dosis mencukupi dan baru dihentikan setelah 48 jam dari hilangnya demam. – Penjelasan yang tegas pada pasien mengenai cara penggunaan antibiotika yang benar. – Pemeriksaan kultur microba terhadp antibiotika.

Jenis reaksi merugikan :

Suprainfeksi.

Penjelasan dan cara mengatasi. :

- Munculnya infeksi sekunder selama terapi,akibat dari matinya banyak mikroba,dan mikroba yang tak mati berubah patogenitasnya,biasanya pada penggunaan antimikroba broad spectrum. – Gejala suprainfeksi berupa spomatitis,radang saluran pernafasan, usus halus, saluran kencing,kulit,infeksi jamur. – Suprainfeksi jarang terjadi pada pemberian obat kurang dari satu minggu(JL.Kee,1996). – Cara mengatasi : - Pantau munculnya tanda suprainfeksi. – Pemberian obat antimikroba yang sensitive dan narrow spectrum. – Pemberian obat antimikroba tidak dalam waktu lama yaitu tidak lebih dalam satu minggu. – Pemberian Yogurt selama terapi antimikroba untuk memelihara flora usus.

Jenis reaksi merugikan:

Toksisitas organ.

Penjelasan dan cara mengatasi:

Antibaterial tertentu sering menimbulkan kerusakan pada organ organ : Hati (Hepatotoksis),Ginjal (Nefrotoksis) Pendengaran dan keseimbangan (Ototoksis), Sumsum dan lain lain. Cara mengatasi: - Kaji adanya gangguan organ terutama hati dan ginjal. – Pantau adanya gejala dini efek toksik dan segera laporkan. – Pantau dengan pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal,Hati, Hemopoetik.

Jakarta 24 Pebruari 20011

Dilarang mengutip dan memindahkan artikel ini ke web lain ,tanpa izin penulis ,apa bila terjadi pemindahan pada web lain harap mencantumkan sumber pengambilannya dan tidak mengganti nama penulisnya. Terima kasih

(Artikel ini dilindungi dengan undang undang)

Add comment


Security code
Refresh